Senin, 17 Maret 2014

Akita rice2
By: Japantimes.co.jp
Odate, Akita PREF. - Sekelompok perusahaan kecil telah meluncurkan sebuah program untuk menawarkan berbagai Akita Komachi beras untuk pengunjung Muslim ke Jepang, berharap untuk mengekspor gandum berkualitas tinggi untuk negara-negara Islam di masa depan.
Program ini dimulai setelah Pakan Inovasi Inc, bisnis usaha makanan di Odate, Prefektur Akita, dan Hosana Kikaku, sebuah perusahaan pertanian di kota, memiliki metode produksi beras mereka disertifikasi sebagai halal, atau sesuai dengan hukum Islam, Agustus lalu.
Ini adalah yang pertama dan sejauh ini hanya sertifikasi halal beras di Jepang, menurut perusahaan.
"Kami ingin wisatawan Muslim yang datang ke Jepang untuk mengetahui selera yang baik dari Akita Komachi," kata Koki Sato, 29, presiden Feed Inovasi.
Halal adalah kata Arab yang berarti "diizinkan" atau "hukum," dan makanan halal bebas dari bahan-bahan yang dilarang oleh hukum Islam, seperti alkohol dan babi. Untuk menerima sertifikasi, aplikasi diajukan dengan organisasi Islam yang ditunjuk untuk pemeriksaan produksi dan pengolahan sistemnya.
Pakan Inovasi, yang memproduksi dan memasarkan produk-produk pertanian organik, mulai menjual panen padi musim gugur terakhir di paket dengan tanda sertifikasi halal. Saat ini memasok paket kecil nasi halal untuk bandara Jepang dengan rute internasional, serta dalam jumlah yang lebih besar untuk hotel dan penginapan.
Perusahaan mengharapkan untuk kapal setidaknya 20 ton beras halal musim ini. Hal ini juga berharap untuk memulai ekspor dalam waktu dekat ke Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya di mana masakan Jepang populer.
Menurut Halal Asosiasi Bisnis Jepang, peningkatan jumlah perusahaan Jepang yang memenangkan sertifikasi halal untuk produk makanan mereka di bangun seleksi Tokyo untuk menjadi tuan rumah 2020 Olimpiade Musim Panas dan keputusan UNESCO untuk menambah masakan tradisional Jepang yang daftar Warisan Budaya Takbenda.
Ada sekitar 1.9 miliar Muslim di populasi global sekitar 7.2 miliar. Beberapa ahli demografi memperkirakan bahwa kaum Muslim akan mencapai sepertiga dari populasi dunia oleh 2050.
Perusahaan Jepang menaruh harapan tinggi pada pasar Islam tumbuh sebagai pasar domestik akan terus menyusut sebagai akibat dari penuaan penduduk dan berkurangnya angka kelahiran.
Mengejar otorisasi halal bukanlah "booming sementara," kata seorang pejabat asosiasi.
Sato Feed Inovasi menggarisbawahi pentingnya memetakan strategi pemasaran untuk membuat penggunaan terbaik dari otorisasi halal.
"Kami berharap untuk mempromosikan makanan halal Jepang di luar negeri," katanya.

Minggu, 16 Maret 2014

Varietas unggul baru (VUB) memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan hasil padi sawah. Selain itu, introduksi VUB  merupakan komponen utama dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman padi.  Tahun 2010 telah dilakukan demonstrasi plot  empat VUB padi sawah  di Sumatera Barat (Sumbar), termasuk  di Kabupaten Solok, yaitu: Tukad Unda, Silugonggo, Logawa dan Inpari 12.  Tahun 2011 dilanjutkan dengan demfarm yang dimaksudkan untuk mempercepat penyebaran VUB yang dinilai sesuai dengan preferensi konsumen masyarakat Sumbar, yakni rasa nasi pera dengan kadar amilosa tinggi (>25%).
Penggunaan VUB dan benih berkualitas merupakan salah satu komponen dasar pelaksanaan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Menggunakan benih bermutu memberikan manfaat, yaitu: (i) menghasilkan bibit yang sehat dengan akar yang banyak; (ii) menghasilkan perkecambahan dan pertumbuhan tanaman yang seragam; (iii)  dapat tumbuh lebih cepat dan tegar; (iv) memberikan hasil yang tinggi dan kualitas yang seragam, sehingga harga jual lebih tinggi, yang pada gilirannya, dalam konteks agribisnis, lebih mengutungkan.
Usaha agribisnis padi terdiri dari subsistem (i).  Pra produksi, (ii). Produksi, dan (iii). Pemasaran. Subsistem pra-produksi ketersediaan varietas unggul dan benih bermutu merupakan prioritas utama yang harus diperhatikan dalam penerapan PTT. Kabupaten Solok yang dikenal sebagai penghasil beras utama ternyata ketersediaan benih bermutu yang  memenuhi  6 tepat  masih menjadi kendala dalam peningkatan produksi. Enam tepat yang dimaksud adalah tepat varietas, tepat jumlah, tepat waktu, tepat cara, tepat mutu serta tepat harga.
Atas dasar itu, telah dilakukan kegiatan penangkaran benih padi sawah oleh UP FMA Nagari Cupak pada Musim Kemarau 2011 dengan pendampingan inovasi teknologi dari BPTP Sumatera Barat.
KERAGAAN TEKNOLOGI
1. Kondisi agroekosistem
    Nagari Cupak adalah salah satu dari 8 nagari di Kecamatan Gunung Talang,  Kabupaten Solok. Luas sawah kecamatan Gunung Talang 3.374 ha, terletak pada   ketinggian 829-950 m aml.  Curah hujan rata-rata 2.549 mm/tahun dan hari hujan 82 hari.  Kecamatan Gunung Talang termasuk lokasi penghasil beras Solok kulitas terbaik di daerah ini, terutama didukung oleh kondisi areal persawahan berjenjang yang mendapat air irigasi segar secara terus menerus.  Sebagai sentra produksi beras, luas areal panen tahun 2009 adalah 8.123 ha dengan produksi 56.616 ton GKP atau rata-rata hasil 6,96 t/ha, serta Indek Pertanaman 240%/tahun.   Dengan kondisi ini diperkirakan kebutuhan benih untuk Kecamatan Gunung Talang sekitar 15,4  ton/tahun.  Varietas padi sawah dominan berkembang adalah Cisokan, Anak Daro, Batang Piaman, Batang Lembang dan lokal.
    2. Persemaian
      Persemaian dibuat pada lahan yang ditanami dengan varietas yang sama sebelumnya.   Pengolahan tanah untuk persemaian sampai melumpur sempurna  sekaligus  membuang sisa tanaman.   Persemaian basah   dibuat dengan  dialasi plastik yang diisi cairan lumpur sawah+pukan+abu sekam, setinggi 1-2 cm. Luas persemaian 4% dari luas sawah, ukurannya  lebar 1,5 m, panjang sesuai ukuran lahan, tinggi 15 cm. Jauh dari pencahayaan (lampu) di malam hari, kemudian lakukan penaburan  pupuk NPK Phonska  50-60 gram/m2 dan Curater 3 G. Benih yang disemai harus bersumber dari kelas yang lebih tinggi dari benih yang akan dihasilkan (bersertifikat/berlabel). Benih yang telah rendam  selama 24 jam dan ditiriskan selama  48 jam baru ditaburkan merata diatas tempat persemaian.
      1. 3. Penyiapan Lahan
      Penyiapan lahan dengan olah tanah sempurna (2 x bajak, 2 kali garu, dengan interval 1 minggu). Penggenangan air dilakukan selama 3-4 hari sebelum tanam agar  bibit varietas campuran lain (VCL) tidak tumbuh di areal penangkaran.
      1. Penanaman
      Bibit ditanam pindah umur 21 hari (Cisokan dan Inpari 12)  dengan  2-3 batang perumpun (untuk memproduksi kelas BP). Bibit ditanam  memiliki umur fisiologi yang sama (dicirikan jumlah daun sama, misal 2 atau 3 daun/batang). Agar tanaman terlihat lurus, teratur, mudah dalam pemeliharaan, mudah merougiung dan mampu meningkatkan produksi, maka ditanam secara legowo 6:1. Digunakan alat penggaris caplak, ditarik dari arah Timur ke Barat atau sebaliknya dari Barat ke Timur dengan jarak tanam 25x25 cm. Tanam teratur   bertujuan agar cahaya dapat masuk di antara barisan tanaman dari pagi hingga sore hari, sehingga proses fotosintesa dapat lebih sempurna, dapat menekan perkembang-biakan hama dan penyakit utama lain seperti wereng, penyakit tungro, blas dan tikus.
      Pemupukan
        Kesuburan tanah beragam, karena perbedaan sifat fisik dan  kimianya yang dapat mempengaruhi kemampuan tanah  untuk penyediaan hara bagi tanaman. Pemupukan dimaksudkan agar dapat menambah hara untuk mencukupi kebutuhan tanaman. Agar efisien, takaran pupuk disesuaikan kondisi lahan. Takaran pupuk phosfor (P) dan kalium  (K) disesuaikan  dengan ketersediaannya dalam tanah, diukur dengan PUTS ( Tabel 1). Pupuk urea, takaran dan waktu pemberiannya disesuaikan dengan kebutuhan tanaman melalui pembacaan Bagan Warna Daun (BWD) (Tabel 2). Pemberian urea awal sebanyak 75 kg/ha bersamaan pupuk P dan K segera setelah tanam. Jika tidak menggunakan BWD, gunakan takaran pupuk standar 200 – 250 kg Urea /ha. Pupuk P dan K diberikan sekaligus paling lambat 1 minggu setelah tanam. Dianjurkan pemberian bahan organik sebanyak 2 t/ha dan kapur dolomit 500 kg/ha terutama pada tanah berstruktur padat dan pH rendah.  Pengalaman sebelumnya, kedua VUB Cisokan dan Inpari 12  dipupuk dengan 200kg/ha Ponska pada saat tanam+100kg/ha Urea (bila skala BWD<4) dan 50 kg/ha KCL pada stadia primordial, tanpa pukan dan kapur dolomit.
        1. 6. Pengairan
        Air perlu tersedia secara cukup untuk mendukung pertumbuhan tanaman, ketinggian air 2-3 cm cukup untuk mendorong pertumbuhan anakan, bila air terlalu tinggi pertumbuhan anakan tertekan. Tanaman padi umumnya memerlukan aerasi yang baik, untuk itu pengairan berselang sangat dianjurkan. Selain itu pengairan berselang juga dapat membantu perkembangan mikroba  tanah, memperbaiki kimia tanah yang beracun serta perkembangan akar tanaman padi akan lebih baik.

        Tabel 1. Kebutuhan pupuk posfor dan kalium berdasarkan hara tanah
        Status P tanah
        Hara terekstrak HCL 25%(mgP2O5/100 gr)
        Dosis pemupukan SP 36 (kg/ha)
        Rendah
        Sedang
        Tinggi
        <20
        20-40
        >40
        150-200
        100-150
        75-100
        Status K tanah
        Hara terekstrak HCl 25%(mgK2O/100 gr)
        Dosis pemupukan KCl (kg/ha)
        Rendah
        Sedang
        Tinggi
        <10
        10-20
        >20
        100 atau 50+jerami
        50
        50
        Tabel 2.  Pemberian Urea berdasarkan kebutuhan tanaman secara tetap atau real time
        Warna daun
        Skala
        IR 66
        (5 t/ha)
        Cisokan
        (6 t/ha)
        B.Piaman
        (7 t/ha)
        Inpari 12
        (8 t/ha)
        Kuning*
        2-3
        75
        100
        125
        150
        Hijau kekuningan*
        3-4
        50
        75
        100
        125
        Hijau*
        4-5
        0
        0-50
        50
        50
        Hijau kekuningan)**
        <4
        50
        75
        100
        125
        Keterangan: *pemberian pupuk Urea untuk waktu tetap (stadia anakan aktif umur 21-28 hari) dan **pemberian berdasarkan kebutuhan tanaman (real time) yang dievaluasi 7-10 hari sekali dengan pembacaan BWD.
        1. 7. Penyiangan
        Penyiangan dilakukan intensif, paling sedikit dua kali tergantung  keadaan gulma, gunakan landak atau gasrok. Penyiangan dilakukan saat pemupukan susulan pertama atau kedua. Dimaksudkan pupuk yang diberikan hanya diserap tanaman padi, karena gulma sudah dikendalikan. Gulma juga dapat berperan sebagai tanaman inang hama dan penyakit, karena itu penyiangan perlu dilakukan.
        1. 8. Pengendalian Hama dan Penyakit
        Saat ini hama wereng dan penyakit tungro penyebab utama kerusakan dan  kegagalan panen. Untuk itu bila ada gejala serangan, segera dikendalikan secara terpadu. Gunakan insektisida (seperti Aplaud dan Curbix atau Confidor) bila cara lain tidak mampu menekan populasi. Pemasangan bubu perangkap linear trap barrier system (LTBS) dan TBS juga efektif untuk mengendalikan tikus bila populasinya banyak dan petani mempunyai kemampuan mengadakan peralatannya.

        9. Rouguing
          Salah satu syarat dari benih bermutu memiliki tingkat kemurnian genetik  tinggi, karena itu rouguing perlu dilakukan dengan benar dan dimulai dari fase tanaman muda (vegetatif awal) sampai fase akhir pertanaman (generatif akhir), untuk membuang rumpun-rumpun tanaman yang ciri-ciri morfologisnya menyimpang dari diskripsi varietas tanaman yang diproduksi benihnya (Tabel 3).
          Tabel 3. Rouguing dan karakteristik tanaman yang diperhatikan untuk mempertahankan kemurnian genetik varietas.
          Rou-guing  ke

          Fase pertumbuhan/Umur tanaman
          Karakter yang diperhatikan dan pembuangan penyimpangannya dari rata-rata umum


          Bibit muda/15-20 hst
          Laju pemunculan bibit, warna daun, tinggi bibit
          1
          Tanaman muda/35-45 hst
          Laju dan tIpe pertunasan, warna dan sudut daun, warna pelepah dan kaki
          2
          Fase anakan Maksimum/50-60
          Jumlah tunas, panjang & lebar daun, sudut lekat daun, warna daun, panjang dan warna ligula
          3
          Fase awal berbunga/
          85-90 hst
          Sudut pertunasan, sudut daun bendera,jumlah malai/rumpun, umur berbunga, keseragaman berbunga, warna bunga

          Fase pematangan/
          90-100 hst
          Bentuk dan tIpe pemunculan malai, panjang malai,warna gabah, berbulu-tidaknya ekor gabah, kehampaan, laju menua daun, bentuk dan ukuran gabah, umur matang, berbulu dan kerebahan batang tanaman.
          4
          Fase panen/100-115 hst
          Kerontokan, endosperen, bentuk ukuran dan warna gabah


          1. 10. Panen dan Pengolahan Benih
          Panen tepat waktu adalah bila biji telah masak fisiologis ( 90-95% malai telah menguning). Benih padi baru dipanen masih tercampur kotoran fisik dan benih jelek, karena itu  bila benih telah lulus dari pemeriksaan lapangan maka masalah mutu benih setelah panen biasanya berasosiasi dengan mutu fisiologis, mutu fisik dan kesehatan benih.  Mutu fisiologis benih yang menarik perhatian petani adalah status vigor benih. Vigor benih diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh cepat, serempak dan berkembang menjadi tanaman normal dalam kisaran kondisi lapang yang lebih luas. Untuk menjamin ini, maka cara panen yang baik, perontokan, pembersihan, dan cara pengeringan gabah untuk benih akan sangat menentukan mutu benih. Faktor yang paling utama adalah pengeringan benih, benih harus dikeringkan sampai kadar air mencapai 10-11%.  Setelah menjadi benih dan siap untuk disimpan, benih harus dikemas secara baik dan disimpan ditempat dengan kondisi khusus untuk penyimpanan.
          Tanaman dapat dipanen apabila sudah dinyatakan lulus sertifikasi lapangan oleh Balai Pemeriksaan dan Sertifikasi Benih (BPSB).  Perlu disiapkan peralatan yang akan digunakan untuk panen (sabit, karung, terpal, alat perontok/threser, karung dan  tempat/alat pengering) serta alat-alat yang akan digunakan untuk panen harus dibersihkan. Dua baris tanaman yang paling pinggir sebaiknya dipanen terpisah dan tidak digunakan sebagai calon benih. Penurunan kadar air perlu harus segera dilakukan karena pada umumnya calon benih masih mempunyai kadar air panen yang tinggi, calon benih bisa diangin-anginkan terlebih dahulu sebelum dikeringkan. Pengeringan benih dapat dilakukan dengan cara penjemuran atau dengan menggunakan mesin pengering (Dryer).
          Bila benih telah selesai prosesing, lulus sertifikasi dan siap untuk disimpan atau dipasarkan, maka perlu dicatat yaitu nama varietas, tanggal panen, asal petak percobaan, jumlah/kuantitas benih asal (pada saat  awal penyimpanan), jumlah  pada saat pemeriksaan stok terakhir, serta hasil uji daya kecambah terakhir (tanggal, % daya kecambah).
          ANALISIS USAHATANI
          Hasil analisis usahatani kegiatan penangkaran benih padi varietas Cisokan dan Inpari 12 yang dilakukan oleh Unit Pengelola Farmer Managed Extention Activity (UP FMA) Nagari Cupak, Kecamatan Gunung Talang  Kabupaten Solok pada MK 2011 dilakukan sesuai  prosedur  di atas dikemukakan pada Tabel 4.
          Tabel 4.       Analisis usaha penangkaran benih padi sawah varietas Cisokan UPFMA   Cupak, Kabupaten Solok MK 2011.
          Masukan-hasil
          Kuantitas (satuan)
          Harga satuan (Rp/satuan)
          Nilai (Rp/ha)
          1. Benih kelas BD (kg)
          2. Pupuk:
          -  Urea (kg)
          -  NPK Phonska (kg)
          1. Pestisida:
          -  Curater 3G (kg)
          1. Tenaga Kerja (HOK):
          -  Traktor
          -  perbaikan pematang
          -  persemaian
          -  persiapan tanam
          -  tanam
          -  pemupukan
          -  penyiangan
          -  rouguing
          -  panen & perontokan (% hasil)
          -  pengeringan gabah ((Rp/kg)
          -  pembersihan calon benih (Rp/kg)
          1. Biaya proses
          -  pendaftaran awal
          -  labor dan pelabelan (Rp/kg)
          -   Packing (Rp/kg)
          Total biaya (1+2+3+4+5)
          Hasil dan Penerimaan (kg)
          Keuntungan
          R/C
          20

          100
          300

          18

          Borongan
          2
          2
          5
          26
          3
          24
          4

          10

          150

          100

          -

          200
          210

          4.900
          -
          9.500

          3.000
          2.800

          22.500

          750.000
          35.000
          35.000
          35.000
          30.000
          35.000
          30.000
          35.000
          -
          -
          -

          -
          -
          -





          8.500
          -

          190.000

          300.000
          840.000

          405.000

          750.000
          70.000
          70.000
          175.000
          780.000
          105.000
          720.000
          140.000
          4.165.000
          735.000
          490.000




          5.000

          980.000
          1.029.000
          11.949.000
          41.650.000
          29.701.000
          3,48

          Total biaya penangkaran benih kelas Benih Dasar (FS) sebanyak Rp 11.949.000/ha. Biaya terbesar dialokasikan untuk upah tenaga kerja, termasuk bagian hasil panen dan perontokan dalam bentuk natura sebesar 10% dari hasil. Dari perolehan hasil benih kelas Benih Pokok (SS) sebanyak 4,9 t/ha siap jual dengan harga Rp 8.500/kg diperoleh penerimaan sebesar Rp 41.650.000/ha dengan nilai R/C 3,48.
          KESIMPULAN
          Ketersediaan benih sesuai enam tepat menjadi kunci utama keberhasilan usahatani termasuk padi sawah.  Dilain pihak, selama ini ketersediaan benih bermutu menjadi masalah utama bagi petani, sehingga mereka menggunakan benih yang dihasilkan sendiri dengan segala kelemahannya. Memproduksi benih bermutu spesifik lokalita dapat dilakukan oleh petani atau kelompok tani penangkar benih sesuai  dengan panduan teknik penangkaran benih padi sawah di atas. Untuk itu, keterkaitan petani penangkar dengan institusi penyedia benih sumber dan unsur pengawasan dari BPSB serta prosessing dan pemasar benih harus menjadi pertimbangan, khususnya dalam produksi benih skala besar berorientasi bisnis.
          Kegiatan usaha penangkaran benih padi sawah yang dilakukan oleh UP FMA Kenagarian Cupak Kabupaten Solok MK 2011,  menggunakan Benih Dasar (FS) varietas Cisokan dan Inpari 12 mampu menghasilkan 4,9 t/ha benih Benih Pokok (SS), dengan nilai R/C. 3,48.

          Sabtu, 15 Maret 2014

          Teknologi Produksi Beras SuperPDFCetakE-mail
          Oleh Administrator   
          Kamis, 05 Juli 2012 11:43
          PENDAHULUAN
          Permintaan konsumen terhadap beras dengan mutu lebih baik semakin meningkat.  Peningkatan ini  berhubungan erat dengan tingkat pendapatan masyarakat.  Damardjati dan Adnyana (1992) menyebutkan bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan semakin tinggi pula preferensi konsumen terhadap kualitas beras, sehingga semakin hari konsumen makin menghendaki beras yang berkualitas Super. Suatu beras dikatakan super apabila rasanya sangat disukai, penampilan cemerlang, tidak kusam mengandung beras kepala ≥ 80%.
          Preferensi konsumen terhadap kriteria kualitas beras berbeda-beda.  Perbedaan ini dipengaruhi oleh etnis (suku). Sebagai contoh suku Toraja/Bugis menyukai beras beras sangat pulen, suku Jawa/Sunda menyukai beras setengah pulen, sedangkan masyarakat Sumatera Barat menyukai beras pera (Suismono, 1999).
          Sebagai makanan pokok pengadaan beras haruslah memperhatikan kesukaan atau preferensi konsumen, agar memberi peluang pasar yang luas. Dalam perdagangan beras di Indonesia, petani hanya sebagian kecil dari pelaku pasar. Apabila kriteria kualitas atau preferensi konsumen tidak dipenuhi, maka konsumen tidak akan membeli dan penggilingan padi tidak akan memproduksi beras yang tidak laku di pasaran.
          Komponen mutu beras yang berpengaruh terhadap tingkat preferensi konsumen adalah persentase beras kepala, beras pecah, menir, derajat sosoh, dan kecemerlangan serta bebas dari lapisan bekatul (Nugrahadkk.2001). Beras kepala merupakan salah satu penentu peningkatan mutu beras untuk memenuhi selera konsumen.
          Beras kepala adalah karakteristik mutu beras dengan prersentase butiran utuh berkorelasi negatif dengan beras patah dan menir. Persentase beras kepala sangat    dipengaruhi oleh sifat genetik varietas . (Suismono et.al,2003). Prosesing gabah menjadi beras dilakukan melalui berbagai tahapan sejak dari pengeringan, penggilingan, dan penyosohan hingga menjadi beras.
          Menurut Mears (1982), sebagian besar konsumen di Indonesia lebih menyukai beras berkualitas tanak yang sempurna, dengan demikian  beras berkualitas aka banyak dibutuhkan.
          Produksi beras super kristal.
          Upaya menghasilkan beras berkualitas Super sudah harus dimulai dari kegiatan pemuliaan. Hampir setiap daerah  di Indonesia memiliki varitas unggulan dengan kualitas rasa “super” seperti Beras Cianjur, Rojolele, Pandan Wangi di Pulau Jawa; Cisokan, Anak Daro  dan Kuriak Kusuik di Sumatera Barat, dan lain-lain. Bila beras tersebut ditanak menggunakan Magiccom atau Magicjar kurang lebih 25-35 menit maka nasi sudah siap untuk dikonsumsi. Permasalahannya adalah bagaimana membuat beras yang sudah berkualitas rasa super tersebut dapat pula berpenampilan fisik super.
          Penggilingan padi merupakan “kunci” dan penentu mutu beras yang beredar di pasar. Untuk itu, perbaikan mutu di tingkat penggilingan padi harus menjadi fokus dalam perbaikan mutu beras. Perbaikan mutu beras di tingkat penggilingan padi dapat dilakukan melalui “program revitalisasi penggilingan padi”, dengan cara mengimplementasikan pengabut air. Cara memproduksi beras berkualitas super ini telah dikenalkan BPTP Sumatera Barat di UP-FMA  kenagarian Batu Balang kecamatan Padang Sago, Kabupaten Padang Pariaman. Alat ini dicangkokkan pada poros polisher sehingga beras yang masuk kedalampolisher dari husker mengalami penurunan suhu, sehingga tingkat kepatahan beras selesai di polis menjadi lebih rendah. Pengujian diikuti oleh 50 orang peserta yang terdiri dari pengusaha penggilingan padi, petani, pengusaha bengkel lokal, konsultan FEATI Sumbar, dan BAPELUH Kabupaten Padang Pariaman serta Balai Besar Penelitian Mekanisasi Pertanian Serpong (Gambar 8, 9, 10).
          Gambar : Atas suasana pelatihan, bawah pemasangan alat pengabut air
          Beras super sekurang-kurangnya harus memenuhi kriteria Mutu II dengan persentase butir kepala  menimum 80%, butir patah maksimum 10%, sementara persyaratan lainnya seperti pada Tabel 1.
          Tabel 1. Standar Mutu beras menurut SNI 6128:2008
          No
          Komponen Mutu
          Satuan
          Mutu I
          Mutu II
          Mutu III
          Mutu IV
          Mutu V
          1
          Derajat sosoh (min)
          (%)
          100
          100
          95
          95
          85
          2
          Kadar air (maks)
          (%)
          14
          14
          14
          14
          15
          3
          Butir kepala (min)
          (%)
          95
          89
          78
          73
          60
          4
          Butir patah (maks)
          (%)
          5
          10
          20
          25
          35
          5
          Butir menir (maksa)
          (%)
          0
          1
          2
          2
          5
          6
          Butir merah (maks)
          (%)
          0
          1
          2
          3
          3
          7
          Butir kuning/rusak (maks)
          (%)
          0
          1
          2
          3
          5
          8
          Butir mengapur, (maks)
          (%)
          0
          1
          2
          3
          5
          9
          benda asing (maks)
          (%)
          0
          0,02
          0,02
          0,05
          0,20
          10
          Butir gabah (maks)
          Butir/100 gram
          0
          1
          1
          2
          3
          11
          Campuran var.lain
          (%)
          5
          5
          5
          10
          10

          Hasil demonstrasi pengguaan alat pengabut tipe bayonet belum diperoleh beras dengan kualitas I atau II, karena masih mengandung butir patah yang melebihi batas yang disyaratkan,, namun penampilannya lebih cemerlang daripada beras hasil penggilingan tanpa pengabuit air. Walaupun demikian, peningkatan mutu beras dengan menggunakan alat pengabut bayonet  jelas terjadi, dimana kalau tanpa bayonet beras patah untuk varietas cisokan   mencapai 37,68%, varietas anak daro 36,38%, dengan menggunakan alat pengabut bayonet beras patah menurun menjadi 22,01% untuk varietas cisokan dan 24,84% untuk varietas anak daro. Dengan menggunakan pengabut air bayonet, beras kepala dapat mencapai 77,99% untuk cisokan dan 75,16% untuk anak daro, sedangkan  tanpa bayonet beras kepala rata-rata hanya 62,31% untuk cisokan dan 63,62% anak daro. Peningkatan beras kepala atau penurunan beras patah terjadi karena  dengan menggunakan pengabut bayonet, suhu  di polisher menurun, terbukti saat pengujian tanpa bayonet suhu mencapai 60°C, sedangkan dengan menggunakan bayonet suhu turun menjadi 41°C. Dengan turunnya suhu, tingkat kepatahan beras berkurang karena tidak terjadi penghancuran sel-sel penyusun pati. Hasil pengujian ini sama dengan yang dilakukan Tjahyohutomo, (2006) dimana juga terjadi peningkatan beras kepala yaitu tanpa bayonet 68,6%, dengan menggunakan pengabut bayonet menjadi > 85%. Penelitian Sudaryono dkk. (2000) menunjukkan bahwa peningkatan beras kepala hanya terjadi 0,48%, tetapi penampilan beras lebih cemerlang (Tabel.2). Untuk menjadikan beras biasa menjadi berkualitas super
          dalam arti beras berkualitas super tersebut mengandung beras kepala ≥80%,maka dibutuhkan  upaya dengan melakukan pengayakan.
          Tabel 2. Mutu beras giling dengan teknik penyosohan   yang dimodifikasi dalam Skala Laboratorium.
          Tekanan
          (psi)
          Menir
          (%)
          Beras pecah (%)
          Beras kepala (%)
          Peningkatan butir kepala
          (%)
          Rendemen
          (%)
          Kenampakan
          Kontrol
          20
          30
          40
          0,54
          0,25
          0,39
          0,32
          4,81
          5,09
          4,69
          4,64
          94,65
          94,66
          94,88
          95,11
          0,00
          0,01
          0,20
          0,48
          90,71
          92,62
          93,24
          93,62
          Kusam
          Kusam
          Cemerlang
          Cemerlang
          Sumber : Sudaryono dkk. (2000)
          ANALISIS USAHA TANI
          Di Sumatera Barat pemilik Huller lansung membeli gabah petani dari lokasi persawahan.  Untuk saat ini harga gabah kering panen ditingkat petani rata-rata sebesar Rp.4250,- per Kg. Untuk memproses beras super Kristal dengan mengunakan alat pengabut air diperlukan tambahan upah giling sebesar 45%. Pada saat ini untuk 100 kg beras yang digiling (setara dengan 182 kg GKP) upahnya adalah 5 kg beras (setara dengan Rp.47.500,-), sehingga upah giling padi adalah Rp.260.99,-). Denngan demikian upah giling untuk memproduksi beras super adalah 145% x (Rp.260.99) = Rp.378,44. Dengan memperkirakan komponen biaya lainya, maka kelayakan ekonomi dalam memproduksi beras super dapat dilihat pada Tabel 2.
          Tabel 2. Analisa kelayakan produksi beras super
          No.
          Uraian
          Jumlah (RP)
          1.
          Biaya : (Rp)
          Bahan :  Gabah Kering Panen (GKP) per Kg
          Kemasan
          4250,-
          50,-
          Upah : (Rp)
          -     Pembelian Gabah (pengemasan, penimbangan, bongkar muat, pengangkutan) per kg gabah
          50,-
          -    Penjemuran per kg
          50,-
          -    Penggilingan per kg
          378,-
          -      Transport penjualan per kg
          60,-
          -    Biaya lain-lain per kg
          150,-
          Jumlah :
          4.988,-
          2.
          Rendemen beras giling 55% dari GKP
          3.
          Harga impas (BEP) beras giling per kg beras
          Rp. 4.988,-
          = ----------------- x 100 =
          55
          9,069,-
          4.
          Bila harga jual beras per kg di pasaran
          9.500,-
          5.
          Rp. 9.500,-
          B/C Ratio = -------------------
          Rp. 9,069,-
          1,05
          KESIMPULAN
          Untuk mendapatkan beras giling yang bermutu super, dapat dilakukan pemolesan dengan alat pengabut air dan pengayakan terhadap beras varitas yang rasa super . Dengan cara seperti ini diperoleh beras yang lebih cemerlang, tidak kusam dan persentase beras kepala lebih tinggi. (Edial Afdi)

          Jumat, 14 Maret 2014

          Sidenuk & Mugibat: Varietas Padi Unggul Karya BATAN
          DESEMBER 19, 2011
          tags: Badan Tenaga Nuklir Nasional, BATAN, Mugibat, Mugiono, Mutasi Unggul Iradiasi Batan, Si Dedikasi Nuklir, Sidenuk, varietas Cimelati, varietas Diah Suci, varietas padi unggul
          Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) terus mengembangkan varietas padi unggul yang tahan hama, berproduktivitas tinggi, dan rasanya enak lewat teknologi radiasi. Saat ini, BATAN mempunya dua varietas padi hasil radiasi baru, yakni Sidenuk dan Mugibat.
          Sidenuk berasal dari singkatan Si Dedikasi Nuklir. Varietas itu dirilis Mei 2011 lalu berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 2257/Kpts/SR.120/2011. Beberapa daerah, salah satunya Blitar, telah mencoba menanam varietas padi ini.
          Prof Dr Mugiono, pemulia padi BATAN, mengungkapkan, Sidenuk adalah perbaikan dari varietas Diah Suci, yang merupakan varietas hasil persilangan Cilosari dan IR 74 yang kemudian dimutasikan dengan cara iradiasi.
          “Diah Suci ini punya rasa yang enak dan produktivitas tinggi. Tapi kalau pemupukannya banyak, dia akan rebah. Makanya kita kembangkan Sidenuk yang tidak mudah rebah. Batang Sidenuk lebih pendek 15 cm dari Diah Suci,” jelas Mugiono.
          Keunggulan Diah Suci tetap dipertahankan di Sidenuk. Di antaranya adalah ketahanan terhadap wereng strain 1, 2 dan 3, potong leher dan hawar daun. Demikian juga produktifitas tinggi dan rasa yang pulen. Potensi produktivitas Sidenuk adalah 6,5 ton per hektar.
          Adapun varietas Mugibat adalah singkatan dari Mutasi Unggul Iradiasi Batan. Varietas ini merupakan hasil mutasi dari varietas Cimelati yang dilepas BP Padi Departemen Pertanian pada tahun 2003. Mugibat juga punya rasa pulen, tahan wereng, potong leher dan hawar daun.
          “Kita sudah lakukan uji multilokasi di 16 lokasi. Sekarang tinggal tunggu SK Menteri. Kita sudah ajukan mudah-mudahan bisa dilepas tahun depan,” tutur Mugiono ketika ditemui dalam panen perdana padi varietas Bestari di Blitar, Jawa Timur, pada 14 Desember 2011.
          BATAN saat ini terus melakukan upaya pengembangan varietas padi. Salah satu tujuannya adalah menciptakan padi unggul sehingga mampu mengatasi tantangan ketahanan pangan. Iradiasi adalah salah satu cara menciptakan keanekaragaman yang teknologinya sudah siap.
          Selain itu, BATAN juga berupaya untuk memberikan sosialisasi pada masyarakat bahwa nuklir tidak selalu berdampak buruk. Pengembangan varietas padi dan penggunaan teknologi nuklir dalam dunia kedokteran adalah salah satu contoh manfaat nuklir.
          Sumber: kompas.com, batan.go.id

          Kamis, 13 Maret 2014


          Beras Terbaik di Dunia Versi # 7399 HAHAHA

          Kali ini gw promosiin salah satu produk dr kampung halaman gw di pedalaman kalimantan timur ....

          Yup!! Sesuai judul .... BERAS ... Yg kalo dimasak jd NASI ... Yaiyalaaaah .... (σ ื \: ̅: ̅: ̅ / ื) σ HAHAHAHA!

          Kenapa gw bilang beras inio yg terbaik ... Ini alasan nya menurut # 7399:
          1. Beras ini adalah beras organik
          2. Warnanya putih bersih dan Mulus
          3. Ukurannya Kecil
          4. Rasanya Gurih, bahkan kl cm dmakan sm kecap manis doank ... Serius!
          5. Nah ini yg penting, saat dimasak, beras tidak terlalu mengembang. Jd bentuknya msh imut dan rasanya ga bikin eneg ..

          Saking organiknya, beras ini hanya panen sekali dlm setahun ... Itu yg membuat beras ini sangat mahal Rp. 55.000/kg dan nyarinya pun agak susah

          Tp Bagi yg mau coba, silahkan hub gw ... Bukan mau jualan, cm mau membagi info betapa kayanya Indonesia. ^ ^ (Tapi bayar) --- banyak yg protes>, <

          BTW, kata bapak gw wkt mega msh presiden, dia sempat bawa beras ini loooh :)

          Sekedar info: kl mau info lebih cari aja di gugel "beras krayan / adan krayan"


          Selamat menikmati beeeeeeessssss


          Sumber gambar: wwf.or.id 
          Beras Terbaik di Dunia Versi # 7399 HAHAHA (Gambar 1)

          Rabu, 12 Maret 2014

          PT PRIMA ANDALAN DJAJA INTERNUSA (PADI) terbentuk dari dukungan para supplier terkemuka baik dari dalam maupun luar negeri. Bidang usaha yang kami tekuni adalah pemasaran dan pendistribusian beras dalam  consumer pack  di seluruh Indonesia.
          Komitmen yang tinggi untuk memberikan layanan terbaik bagi para supplier dan pelanggan menjadi prioritas kami. Inilah yang menimbulkan kepercayaan bagi para produsen produk-produk ternama untuk membuat  PT PADI  sebagai Distributor Tunggal  di Indonesia, diantaranya adalah:
          SupplierProduk UnggulanNegara Tujuan Ekspor
          Bang Sue Chia Meng
          Rice Mill Co., Ltd Thailand
          "Golden Phoenix" Thai Fragrant RiceHong Kong, Malaysia, Brunei, Singapura, Jepang, Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Afrika dan kini ke Indonesia
          Ponglarp Co Limited Thailand"Twin Goddess" Thai Fragrant RiceIndonesia
          Rice Grower Co-operative Limited Australia"Kangaroo Brand"Australia, Singapura, Hong Kong, Jepang dan Korea dan kini Indonesia

          "Si pulen", beras berkualitas, diproduksi dari biji padi yang bermutu tinggi

          Tahun 2003 dengan bangga kami perkenalkan produk unggulan, yang menjadi langkah awal kami untuk memenuhi permintaan masyarakat Indonesia yang ingin menikmati beras berkualitas terbaik dan higienis.  "SiPulen ® "  adalah beras lokal unggulan yang diproses dengan mesin-mesin modern dan higienis sehingga keutuhan rasa dan aroma beras unggulan tersebut dapat dinikmati oleh pelanggan kami.
          VISI
          Menjadi sebuah lembaga distribusi global yang prima dan berkelanjutan serta dapat diandalkan oleh seluruh mitra usaha.